Kearifan Segenggam Garam

By blank183

Dahulu, hiduplah lelaki tua yang terkenal saleh dan bijak. Di suatu pagi, datanglah seorang lelaki muda. Tanpa membuang waktu, dia ungkapkan semua resahnya. Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan teliti dan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Dia taburkan garam itu ke dalam gelas. “Coba minum ini, dan katakan bagaimana rasanya?” pinta Pak Tua itu. “Asin dan pahit, pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah ke tanah. Pak Tua hanya tersenyum

Ia lalu mengajak tamunya ini berjalan ke tepi telaga di hutan dekat rumahnya, lalu ia menaburkan garam tadi ke dalam telaga. Dia berkata, “Coba ambil air telaga ini, dan minumlah”. Saat tamu itu selesai minum, Pak Tua bertanya lagi, “Bagaimana rasanya?” “Segar,” sahutnya. “Apa kamu masih merasakan garam di dalam air itu?” tanya Pak Tua lagi. “Tidak,” jawab tamunya.

“Anakku, dengarlah, pahitnya kehidupan ibarat segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama, dan akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan akan sangat bergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, selalu berasal dari bagaimana cara kita meletakkan segalanya. Semua tergantung pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan: lapangkanlah dadamu untuk menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskanlah wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai pandangan hidup yang luas. Kamu akan belajar banyak dari keleluasaan itu.” Ucapnya bijak.

Leave a Reply